Warga Pakansari Penderita Kanker Stadium 4B Harapkan Bantuan Pemkab Bogor
Siber24jam.com – IMO, dalam upayanya mengatasi isu lingkungan, berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dari kapal sekitar 40% pada tahun 2030 dan mengurangi setengah dari total emisi gas rumah kaca pada tahun 2050.
“Pemerintah Indonesia, sebagai salah satu anggota IMO, mendukung penerapan green shipping dengan menerbitkan regulasi aksi mitigasi, seperti kewajiban penggunaan bahan bakar rendah sulfur, penggunaan scrubber sebagai pembersih gas buang, peremajaan kapal, penggunaan alat bantu navigasi yang ramah lingkungan, dan pelaporan konsumsi bahan bakar kapal untuk semua kapal berbendera Indonesia,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Capt. Antoni Arif Priadi, dalam Focus Group Discussion on Green Shipping and Energy Efficiency di Hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta, Kamis (11/1/2023).
Pengamat Maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC), DR. Marcellus Hakeng Jayawibawa. SSiT. M.Mar., menilai komitmen Indonesia terhadap green shipping sebagai bukti kepedulian dan partisipasi dalam menjaga dan mendukung perlindungan lingkungan maritim.
Green Shipping, sebagai upaya penurunan emisi, bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan laut dari konsumsi tinggi bahan bakar fosil pada sektor transportasi laut, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060 Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan pelayaran nasional dan internasional diharapkan mampu menerapkan green shipping.
Menurut Capt Hakeng, PT Pertamina International Shipping (PIS) merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan green shipping. CEO PIS, Yoki Firnandi, menegaskan komitmen perusahaan dalam transisi energi dengan menggunakan bahan bakar rendah emisi dan biodiesel pada kapal-kapal yang dimiliki dan dioperasikan oleh PIS.
Data dari PIS menunjukkan bahwa sebanyak 146 kapal dioperasikan menggunakan biodiesel B35 sebagai sumber tenaga mesin utama. Tiga kapal PIS telah memenuhi standar emisi IMO tier tiga.

PIS meluncurkan beberapa kapal super tangker dengan konsep green shipping, termasuk dua Very Large Gas Carrier (VLGC) seperti VLGC Pertamina Gas Tulip dan VLGC Pertamina Gas Bergenia. Teknologi terkini yang dimiliki kapal VLGC dapat meningkatkan efisiensi operasi kapal hingga 16% dan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) serta Augmented Reality (AR) dalam operasionalnya.
“Upaya PIS sejalan dengan tujuan green shipping untuk penurunan emisi dan peningkatan efisiensi operasi kapal. Ini juga mendukung ekonomi biru (blue economy) dengan pengembangan teknologi untuk mewujudkan inovasi ini,” ungkap Capt Hakeng.
Capt Hakeng berharap agar perusahaan pelayaran lainnya melakukan peremajaan armada sesuai regulasi The International Convention for the Prevention of Pollution from Ships (MARPOL) dan Peraturan Menteri Perhubungan No. 29 Tahun 2014 tentang Penghentian Operasi Kapal Lambung. Ia berharap langkah PIS dapat menjadi katalisator bagi perusahaan lain dalam mengikuti tren penurunan emisi di sektor pelayaran dan kelautan. Sinergi yang baik antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan mewujudkan green shipping, menjaga lingkungan maritim untuk generasi mendatang.
Penulis : Ali Wardana
Berita Lainnya
Tags: International Maritime Organization (IMO) Berkomitmen untuk Menurunkan Emisi Karbon

















