CIBINONG, Siber24jam.com – Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bogor mengeluhkan rumit...
Bogor, Siber24jam.com – Adakalanya kita perlu bertanya, apakah ada hubungan antara kesalehan beragama dan kesalehan sosial? Secara ideal, hubungan ini semestinya ada dan nyata. Namun, sering kali yang terjadi hanyalah angan-angan semata.
Dalam pengalaman hidup, bergaul, dan berorganisasi, saya mendapati bahwa seseorang yang tampak religius, taat beribadah, bahkan telah menunaikan haji dan membangun masjid, tidak selalu berjalan lurus sesuai tuntunan agama. Tingginya ilmu tidak menjamin kelurusan perilaku. Ironisnya, kekayaan justru sering kali membuat seseorang merendahkan orang lain, seolah lupa bahwa kekayaan itu sementara dan dapat lenyap sewaktu-waktu. Ketika ajal tiba, harta yang melimpah tak akan berguna. Hanya kain kafan dan tanah yang akan menemani. Kehormatan dan kekuasaan yang dulunya diagung-agungkan akan sirna seiring dengan perjalanan menuju alam kubur.

Ada sebuah nasihat, jika usia telah melewati 60 tahun, banyaklah bertobat sebelum terlambat. Cari mereka yang pernah Anda sakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan mintalah maaf agar perjalanan di akhirat kelak lebih lapang. Jangan sampai amal-amal baik yang kita kumpulkan selama hidup harus hilang karena kita pernah menganiaya, memfitnah, atau menjelek-jelekkan orang lain.
Bagi mereka yang pernah bersujud di Masjidil Haram, menangis di depan Ka’bah, pastilah mereka paham betapa kecilnya manusia di hadapan Allah yang Maha Agung. Popularitas dan kekayaan hanyalah perhiasan dunia yang bisa hilang sewaktu-waktu. Tidak patut kita merasa hebat atau paling benar, kecuali jika ibadah itu hanya sekadar untuk riya—sekadar pamer agar dipuja orang lain.
Namun, saya sering merasa heran, mengapa ada orang yang tampak religius tapi tidak mencerminkan hal tersebut dalam tindakan dan perilakunya. Orang saleh sejatinya berhati-hati dalam memberi label kepada orang lain, karena jika salah, bisa menjadi fitnah. Islam mengajarkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah bisa diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri—kejam dan menjijikkan.
Dalam dunia jurnalistik, kita telah diajarkan prinsip konfirmasi, cek dan ricek, serta tabayun, sebelum menyebarkan informasi atau tuduhan. Jika seseorang dituduh korupsi, buktikanlah dengan keputusan pengadilan, bukan sekadar tuduhan tanpa dasar. Wartawan, terlebih yang senior dan lama menduduki jabatan dalam organisasi kehormatan, seharusnya memahami ini. Kesalahan besar jika fitnah dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjunjung tinggi kode etik.
Kini, saya semakin terheran-heran dengan kebohongan yang dianggap benar dan disebarluaskan terkait polemik yang terjadi di PWI saat ini. Rapat pleno yang hanya dihadiri segelintir orang dan menetapkan keputusan penting jelas tidak sah menurut ketentuan organisasi. Namun, kebohongan itu terus didengung-dengungkan seolah menjadi kebenaran.
Sama halnya dengan keputusan Dewan Kehormatan yang memberhentikan saya sebagai Ketua Umum PWI Pusat, padahal yang menandatangani surat keputusan tersebut bukanlah pengurus sah sesuai susunan yang disahkan Kemenkumham. Jika merasa keputusan itu benar, tempuhlah jalur hukum yang sesuai, bukan bertindak sewenang-wenang.
Organisasi harus dijalankan dengan integritas. Jika ingin menggelar Kongres Luar Biasa (KLB), adakanlah sesuai prosedur, dengan dukungan yang sah dari setidaknya 26 provinsi. Jangan hanya mengandalkan uang atau dukungan sesaat. Memang benar, uang bisa membeli loyalitas, tetapi di PWI, integritas dan kinerja yang diakui menjadi tolok ukur utama untuk meraih kepercayaan. Untuk menjadi Ketua Umum PWI Pusat, tidak ada jalan pintas—hanya prestasi dan dedikasi yang bisa membuka jalan.
Pada akhirnya, saya ikhlas dengan apapun takdir yang Allah gariskan. Jika memang harus berhenti, saya akan menghentikan tugas saya sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Yang penting, saya telah berusaha untuk membangun PWI yang lebih baik dan memberi manfaat bagi para pengurus di provinsi yang telah melihat hasil kerja nyata.
Kita serahkan semua kepada Allah SWT, yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat, 5 Oktober 2024.











