CIBINONG, Siber24jam.com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, tengah menyiapkan transformasi besar kawasan Parung menjadi pusat...
Siber24jam, Bandung – Konflik Iran – Israel yang semakin memanas menimbulkan kekhawatiran sejumlah pengamat terhadap pertumbuhan sektor perdagangan internasional, khususnya ancaman tingginya harga minyak dunia memasuki kuartal III tahun 2025 ini.
Ketua Poros 98 Daddy Palgunadi menilai memanasnya konflik antara Iran – Israel akan mengancam pasokan minyak dunia. Jalur lintas perdagangan internasional di kawasan Timur Tengah, khususnya di laut Merah dan Selat Hormuz tentunya menjadi kawasan yang sangat rawan dan menghambat pertumbuhan ekonomi global.
“Jika konflik semakin memanas dipastikan harga minyak dunia bisa mencapai lebih dari $100/barel. Hal ini memberikan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah harus mewaspadai dan punya skenario manajemen krisis dalam menghadapi situasi ini,” ujar Daddy, Minggu (22/6).
Pemerintah, menurut Daddy, harus mengambil langkah taktis guna meminimalisir dampak negatif konflik Iran – Israel terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan energi, kebijakan moneter dan fiskal yang adaptif harus segera diimplementasikan, mengingat dalam waktu 24 jam terakhir tidak ada indikasi konflik ini akan mereda. Justru sebaliknya, keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini semakin membuat berbagai kalangan pesimis terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah saat ini.

Ketua Poros 98, Daddy Palgunadi
“Kenaikan harga minyak dunia tentunya akan berdampak pada pembengkakan biaya produksi di sebagian besar sektor industri, melemahkan nilai tukar Rupiah, yang bisa berdampak pada kenaikan inflasi dan pelemahan daya beli masyarakat. Pemerintah harus tanggap dalam menghadapi situasi global ini,” tambah Ketua Poros 98 itu.
Daddy menambahkan, target pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025 sebesar 5,5% masih bisa dijaga dengan menerapkan sejumlah kebijakan yang adaptif terhadap situasi terkini. Peningkatan permintaan domestik dan peningkatan digitalisasi sistem pembayaran bisa menjadi indikator yang dapat meminimalisir dampak konflik Iŕan – Israel terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Menjaga pasokan bahan mentah, kebijakan fiskal terkait deregulasi atau insentif pada beberapa sektor industri strategis dan diversifikasi energi bisa diimplementasikan pemerintah dalam menjaga stabilitas kegiatan ekonomi di dunia industri. Di lain sisi, pengawasan distribusi barang atau kegiatan jual–beli di pasar – pasar juga harus dilakukan guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Daddy berharap tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi krisis global ini demi meraih keuntungan semata tanpa memperhatikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
“Poros 98 terus memantau dampak konflik ini terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak,” tutup Daddy Palgunadi
Berita Lainnya
Tags: Konflik Iran - Israel











