Update

Keluh Kesah Kades Cileuksa Bogor, yang Wilayahnya Mengkhawatirkan Pasca Bencana Longsor 2020

Bogor, Siber24jam.com – Kepala desa (Kades) Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, mengeluhkan tentangnya wilayahnya sangat mengkhawatirkan pasca bencana Longsor tahun 2020 lalu.

Kades Cileuksa, Sukajaya, Bogor, U Ruhyadi mengemukakan, akses jalan Cileuksa-Jasinga pasca bencana alam tahun 2020 silam, sampai hari ini tak kunjung diperbaiki, sampai-sampai kondisinya saat ini sangat memprihatinkan.

“Jalan dan jembatan diwilayah kami sangat buruk, dan belum ada perbaikan sedikit pun dari Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten Bogor sejak terjadi bencana alam longsor di tahun 2020 lalu,” kata Kades Ruhyadi kepada wartawan media ini, Senin (29/5/23).

Menurut dia, meski lokasi bencana alam longsor tersebut telah di kunjungi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama tiga kali, akan tetapi Pemkab Bogor sendiri hingga kini tidak ada perhatian khusus terhadap wilayah mereka dengan tak adanya perbaikan di segala bidang.

“Sudah tiga kali RI 1 (Presiden) berkunjung kesini, berarti saat itu negara hadir untuk korban bencana longsor di kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Akan tetapi sampai hari ini Pemkab Bogor maupun dinas terkait belum ada tindak lanjutnya terkait pembangunan jalan dan jembatan maupun irigasi bagi pertanian dan sarana pendidikan di tanah kelahiran kami ini,” ucapnya.

Tak hanya itu, pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban longsor pun terkesan terabaikan oleh pemkab Bogor lantaran belum tuntasnya pengerjaan dalam proyek tersebut.

Selain itu, dari sisi pembangunan jalan jembatan dan irigasi untuk pertanian masyarakat pun, hingga kini belum mendapat perhatian serius dari gubernur Jawa Barat, dan para menteri kabinet kerja terkait.

“Mulai dari jalan, dan jembatan yang menjadi penghubung dua kecamatan, antara Sukajaya dan kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, dari awal bencana 2020 sampai sekarang tidak ada perbaikan sampai hari ini alias belum ada kejelasan dari pemerintah terkait,” tegas dia.

“Yang ada, hanya janji-janji belaka tanpa ada bukti yang konkrit,” jelasnya menambahkan.

Lebih lanjut Ruhyadi memaparkan, untuk kondisi terkini warganya itu terbilang sangat mengkhawatirkan, terutama dari segi pemulihan ekonomi bagi masyarakatnya kedepan.

Kendati demikian, kades Ruhyadi menegaskan, dengan tidak hadirnya Pemda Kabupaten Bogor disisi masyarakatnya yang kala itu menjadi korban longsor tak menyurutkan warganya untuk tetap kompak dengan menggalakkan budaya gotong-royong.

“Tapi perlu ada keseriusan dari pihak pemerintah untuk pemulihan dari segi pembangunan di wilayah kami ini, khususnya di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor,” tukasnya.

Untuk diketahui, Banjir bandang dan longsor terjadi di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu 1 Januari 2020. Tak pelak, bencana ini pun meluluh lantakkan daerah yang berada di kawasan perbukitan itu.

Data saat itu, yang dihimpun pihak Kepolisian Sektor Cigudeg, banjir bandang dan longsor di Kecamatan Sukajaya tersebut mengakibatkan 766 unit rumah rusak, enam orang meninggal dunia, tiga orang hilang, dan 34 orang terluka.

Adapun, kerusakan bangunan tersebar di Desa Urug sebanyak 98 unit rumah rusak ringan dan 98 rumah rusak berat. Di Desa Harakat Jaya sebanyak 19 unit rumah rusak berat, di Desa Kiara Pandak 255 rumah rusak berat.

Kemudian di Desa Sukamulih sebanyak 86 rumah rusak ringan, 72 rumah rusak sedang, dan 19 rumah rusak berat. Selanjutnya di Desa Jaya Raharja sedikitnya 32 unit rumah rusak berat. Terakhir, di Desa Cisarua sebanyak 50 rumah rusak ringan dan 37 unit rumah rusak berat.

Akibat kejadian ini sebanyak 4.146 warga mengungsi di beberapa lokasi seperti di Kantor Desa, sekolah dasar, musola, masjid, pondok pesantren dan rumah-rumah warga.

Ribuan warga yang mengungsi berasal dari 10 desa yaitu Desa Cisarua, Cileuksa, Desa Kiarasari, Kiarapandak, Harakat Jaya, Pasir Madang, Jayarahara, Sukamulih, Sipayung, dan Desa Urug.

Jumlah pengungsi terbanyak berasal dari Desa Harakat Jaya sebanyak 1.308 warga. Warga mengungsi di Sekolah Dasar (SD), Posyandu dan musola. Kemudian, warga Desa Kiarapandak sebanyak 600 orang mengungsi di kantor desa, sekolah dasar, SMA, dan di pondok pesantren.

Berita Lainnya

Tags: , , , , , , ,

Update News

Ribet, Melelahkan, dan Bikin Enggan: Pengusaha UMKM Keluhkan Sulitnya Lapor Pajak Tahunan PT di Kabupaten Bogor

CIBINONG, Siber24jam.com – Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bogor mengeluhkan rumit...

Bupati Rudy Susmanto Tekankan Perizinan Terintegrasi demi Pembangunan Berkelanjutan di Bogor

CIBINONG Siber24jam.com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, terus memperkuat tata kelola perizinan sebagai langkah strategis...

Rudy Susmanto Tegaskan Komitmen Pelayanan Haji, Fasilitas Terpadu Segera Hadir

CIBINONG Siber24jam.com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi...

Kuasa Hukum PT Panca Tetrasa Tegaskan Somasi Tak Berdasar, Ungkap Dugaan Pelanggaran Direksi

Bogor, Siber24jam.com — Polemik internal di tubuh PT Panca Tetrasa kian memanas setelah adanya somasi...