Update

IKM Mampu Buat Alat Simulator

Siber24jam.com – Produk berteknologi tinggi semisal berbagai jenis simulator canggih, saat ini sudah diproduksi di dalam negeri. Hebatnya lagi para Industri Kecil dan Menengah (IKM), salah satunya PT Alam Virtual Semesta (AVS).

Dikutip dari laman resmi Kementerian Koperasi dan UKM, Rabu (20/04/2022) AVS merupakan produsen asal Indonesia yang menyediakan alat-alat simulator, seperti simulator untuk pendidikan teknik dan kedokteran, simulator kendaraan pembuatan SIM, video conference yang terjamin kerahasiaannya, hingga simulator alat-alat militer seperti tank dan senjata.

Berbagai jenis simulator buatan PT AVS itu ditampilkan dalam gelaran Business Matching Tahap Kedua yang digelar Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) di Gedung Smesco, Jakarta.

Kehadiran simulator produk AVS itu menjadi bukti jika Indonesia mampu menciptakan produk dengan teknologi tinggi, yang mampu bersaing dengan produk teknologi asing.

“Kami sudah hampir empat tahun berdiri, dan fokus bisnis penyediaan alat simulator, teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan elektronik informatika. Di mana 100 persennya teknologi ini kami ciptakan sendiri,” kata Business Manager PT Alam Virtual Semesta Dwi Wahyudi, di arena Business Matching Tahap Kedua.

Sebagai informasi, AVS telah sukses memenuhi kebutuhan simulator untuk pelatihan dan pengujian di tingkat pendidikan. Alat yang diproduksi AVS seperti simulator las/welding simulator yang banyak dipesan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan.

“Pembelian simulator las oleh SMK ini didanai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pemerintah yang disalurkan pemerintah provinsi. Serapan pemerintah daerah untuk kebutuhan sekolah cukup tinggi, dan program itu nggak pernah dicoret dari anggaran,” ucap Dwi.

Dwi menjamin, alat simulator buatan AVS tak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Di Jawa, pihaknya kerap kali harus head to head dengan produk dari Eropa, seperti Inggris dan Rusia.“Secara kualitas, lawan tender kita kebanyakan dari Australia, Rusia dan Eropa. Beberapa kali kita menang tender lawan Australia dan Eropa. Karena dari segi cost pasti mereka lebih tinggi, namun kualitas hampir sama,” tuturnya.

Deputi Bidang UKM Kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman mengatakan, business matching membantu mempertemukan kebutuhan pemerintah dan UMKM.

“Kita jadi tahu berapa sih kebutuhan pemerintah. Kalau ada gap ya kita bisa siapkan industrinya untuk memenuhi gap tersebut,” kata Hanung.

Hanung menyebut, saat ini market inovasi produk berbasis teknologi sangat luas.

“Ketersediaan barang pun bisa dipenuhi di dalam negeri, sehingga tak perlu lagi mengimpor dari China,” tegas Hanung menutupi.

 

Penulis: Mochamad Yusuf

Tags: , , , , ,

WordPress Ads