Update

KH Achmad Yaudin Sogir: Ilmu Tanpa Akhlak Kehilangan Arah, Jabatan Tanpa Amanah Merugikan Rakyat

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Hari Santri Nasional mengandung pesan yang melampaui peringatan sejarah. Momentum ini mengajak umat Islam memperkuat hubungan antara ilmu, akhlak, pengabdian, dan tanggung jawab kebangsaan.

KH Achmad Yaudin Sogir, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKB, sekaligus pimpinan majelis taklim dan alumni pondok pesantren di Banten, memiliki latar belakang yang relevan dalam pembahasan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan bermasyarakat.

“Santri jangan hanya bangga dengan identitasnya, tetapi harus membuktikan nilai kesantrian melalui akhlak, kejujuran, dan pengabdian. Ilmu agama semestinya membuat seseorang semakin rendah hati, semakin adil, dan semakin takut menyalahgunakan amanah. Jika seseorang memahami agama tetapi masih merugikan orang lain, berarti nilai yang dipelajarinya belum sepenuhnya hadir dalam perilaku,” ungkap KH Achmad Yaudin Sogir.

Secara historis, tanggal 22 Oktober mengingatkan bangsa Indonesia pada Resolusi Jihad 1945 yang berkaitan dengan perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Negara kemudian menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan merupakan bentuk pengabdian pada zamannya, sedangkan tantangan sekarang mencakup pemberantasan korupsi, penegakan hukum, penguatan pendidikan, dan perlindungan terhadap masyarakat yang rentan.

Dalam Islam, prinsip amanah dan keadilan memiliki kedudukan mendasar. Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 58 memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan agar manusia menetapkan hukum secara adil.

Nilai tersebut mempunyai relevansi langsung dengan penyelenggaraan pemerintahan. Jabatan publik bukan hak istimewa untuk kepentingan pribadi, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai hukum dan kepentingan masyarakat.

KH Achmad Yaudin Sogir, dalam draf pandangan berikutnya, dapat menekankan bahwa pembinaan moral harus berjalan bersama ketegasan dalam menegakkan aturan.

“Kejujuran tidak boleh berhenti sebagai nasihat di majelis taklim. Nilai itu harus hidup dalam keluarga, tempat kerja, pelayanan publik, dan lembaga pemerintahan. Orang yang memegang jabatan harus berani berlaku adil, sedangkan masyarakat perlu membangun budaya yang tidak membenarkan kecurangan hanya karena menguntungkan kelompoknya sendiri,” tambahnya.

Sebagai Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, konteks tugas kelembagaan juga relevan dengan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dan tata kelola kelembagaan sesuai kewenangan yang berlaku. Pengawasan yang efektif harus berlandaskan fakta, prosedur, dan ketentuan hukum, bukan prasangka atau kepentingan politik sesaat.

Nilai keagamaan juga perlu diwujudkan dalam cara masyarakat menyampaikan kritik. Kritik terhadap kebijakan merupakan bagian dari kehidupan demokratis, tetapi harus didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan yang belum terbukti tidak boleh diperlakukan sebagai kesimpulan hukum.

Di tengah perkembangan media digital, tanggung jawab tersebut semakin penting. Penyebaran informasi tanpa verifikasi dapat merusak reputasi seseorang, memecah hubungan sosial, dan mengganggu kepercayaan publik.

Pesantren memiliki peran dalam membangun masyarakat yang menghormati ilmu, menjaga lisan, dan mengedepankan tabayun atau pemeriksaan informasi sebelum menarik kesimpulan. Prinsip ini relevan dengan kebutuhan masyarakat untuk membangun komunikasi yang beradab.

Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, menempatkan karakter dan pengabdian sebagai unsur penting pembangunan bangsa.

Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan santri tidak hanya terletak pada banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga pada kemampuan menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan. Akhlak harus terlihat dalam tindakan, amanah harus dibuktikan melalui tanggung jawab, dan ilmu harus memberikan manfaat.

Berita Lainnya

Tags:

Update News

Desy Yanthi Utami: Santri Perempuan Harus Mendapat Ruang Lebih Luas dalam Pendidikan dan Kepemimpinan

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com  — Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak dapat...

KH Achmad Yaudin Sogir: Ilmu Tanpa Akhlak Kehilangan Arah, Jabatan Tanpa Amanah Merugikan Rakyat

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Hari Santri Nasional mengandung pesan yang melampaui peringatan...

Nunur Nurhasdian: Pendidikan Santri Harus Menyatukan Kecerdasan, Akhlak, dan Kepedulian Sosial

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya nilai...

Edwin Sumarga: Hari Santri Harus Melahirkan Generasi Berilmu dan Politik yang Berintegritas

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Peringatan Hari Santri Nasional harus menjadi momentum memperkuat...