Update

Desy Yanthi Utami: Santri Perempuan Harus Mendapat Ruang Lebih Luas dalam Pendidikan dan Kepemimpinan

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com  — Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak dapat dilakukan dengan membatasi kesempatan berdasarkan jenis kelamin atau latar belakang sosial. Santri perempuan memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, kebudayaan, teknologi, dan kepemimpinan masyarakat.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa penguatan pesantren harus berjalan bersama peningkatan mutu pendidikan dan perluasan kesempatan bagi generasi muda.

Desy Yanthi Utami, anggota DPRD Kota Bogor dari Fraksi Golkar, relevan ditempatkan dalam pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan, pembangunan manusia, dan pemerataan kesempatan pendidikan.

“Santri perempuan memiliki kemampuan untuk menjadi pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, dan profesional di berbagai bidang. Mereka perlu memperoleh pendidikan yang bermutu, lingkungan yang aman, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi. Menguatkan perempuan melalui pendidikan bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga memperkuat keluarga dan masyarakat,” ungkap Desy.

Tema Hari Santri Nasional 2026 adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kementerian Agama mendorong santri agar memiliki ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang berakar, dan keberanian berinovasi.

Dalam perspektif pendidikan Islam, Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 menekankan pentingnya membaca dan belajar. Pesan tersebut memberikan dasar bahwa pencarian ilmu merupakan unsur penting dalam pengembangan manusia. Kesempatan belajar yang baik harus membuka jalan bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dan memberikan manfaat kepada lingkungannya.

Pemberdayaan santri perempuan tidak berarti menghilangkan identitas pesantren. Sebaliknya, penguatan ilmu agama dapat berjalan beriringan dengan pendidikan sains, literasi digital, kewirausahaan, dan keterampilan profesional.

Tantangan berikutnya adalah memastikan lingkungan pendidikan mampu memberikan perlindungan yang memadai. Pencegahan kekerasan, perundungan, diskriminasi, dan pelecehan harus menjadi bagian dari pengelolaan lembaga pendidikan. Peserta didik perlu memiliki akses terhadap mekanisme pengaduan yang aman serta pendampingan yang sesuai ketika menghadapi persoalan.

Desy, dalam draf pandangan selanjutnya, juga dapat menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi perempuan.

“Pendidikan harus memberi bekal agar santri perempuan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi. Pelatihan usaha, keterampilan digital, literasi keuangan, serta akses terhadap jaringan pemasaran dapat membantu mereka mengembangkan potensi tanpa meninggalkan nilai agama dan tanggung jawab sosial,” tambahnya.

Dalam praktiknya, program pemberdayaan perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata. Pelatihan tidak cukup diselenggarakan untuk memenuhi target jumlah peserta, tetapi harus diikuti pendampingan, pengukuran hasil, dan akses terhadap peluang usaha maupun pekerjaan.

Sebagai anggota DPRD Kota Bogor, peran Desy dalam pembahasan kebijakan publik perlu tetap ditempatkan sesuai kewenangan lembaga dan daerahnya. Sementara itu, kebutuhan pesantren di Kabupaten Bogor memerlukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan yang berwenang.

Kerja sama lintas wilayah dapat membuka peluang pertukaran pengalaman, pengembangan keterampilan, dan penguatan jejaring pendidikan. Namun, setiap program harus tetap memperhatikan kebutuhan peserta didik, tata kelola anggaran, dan keberlanjutan manfaatnya.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, pembangunan tidak cukup hanya meningkatkan jumlah tenaga kerja. Indonesia juga membutuhkan generasi yang memiliki kompetensi, integritas, kreativitas, dan kemampuan mengambil peran dalam masyarakat.

Santri perempuan yang mendapatkan pendidikan bermutu dapat menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan sosial. Mereka dapat memperkuat pendidikan keluarga, mengembangkan usaha produktif, berkontribusi dalam pelayanan publik, serta melahirkan gagasan untuk menjawab tantangan zaman.

Hari Santri Nasional karena itu perlu menjadi pengingat bahwa penguatan pesantren tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah. Penguatan tersebut harus diwujudkan melalui kualitas pendidikan, perlindungan peserta didik, perluasan kesempatan, dan pengakuan atas kemampuan setiap generasi untuk berkontribusi.

Dengan memberikan ruang yang lebih luas kepada santri perempuan untuk belajar dan berkarya, Indonesia memperbesar peluang untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berakhlak, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.

Berita Lainnya

Tags:

Update News

Desy Yanthi Utami: Santri Perempuan Harus Mendapat Ruang Lebih Luas dalam Pendidikan dan Kepemimpinan

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com  — Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak dapat...

KH Achmad Yaudin Sogir: Ilmu Tanpa Akhlak Kehilangan Arah, Jabatan Tanpa Amanah Merugikan Rakyat

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Hari Santri Nasional mengandung pesan yang melampaui peringatan...

Nunur Nurhasdian: Pendidikan Santri Harus Menyatukan Kecerdasan, Akhlak, dan Kepedulian Sosial

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya nilai...

Edwin Sumarga: Hari Santri Harus Melahirkan Generasi Berilmu dan Politik yang Berintegritas

BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Peringatan Hari Santri Nasional harus menjadi momentum memperkuat...