BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas tidak dapat...
BOGOR, Kamis, 22 Oktober 2026 Siber24jam.com — Keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya nilai akademik atau banyaknya pengetahuan yang dikuasai seseorang. Pendidikan yang bermutu juga harus membentuk kejujuran, kedisiplinan, kemampuan menghargai orang lain, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Perspektif tersebut menjadi relevan dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026, ketika pesantren diharapkan semakin berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas.
Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi PKB, Nunur Nurhasdian, dapat mengambil bagian dalam diskursus tersebut melalui perhatian terhadap pendidikan, pembangunan manusia, dan penguatan karakter generasi muda.
“Pendidikan santri tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang pandai menjawab soal, tetapi harus membentuk manusia yang mampu mengambil keputusan secara benar, menghormati sesama, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sedangkan akhlak yang baik perlu ditopang pengetahuan agar mampu menjawab persoalan nyata,” ungkap Nunur.
Pesan tersebut sejalan dengan kandungan Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat ini memberikan dasar bagi pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia serta kehidupan sosial yang tidak dibangun atas kesombongan atau diskriminasi.
Di lingkungan pendidikan, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pembiasaan dialog, penghormatan terhadap perbedaan, pencegahan perundungan, dan penanaman tanggung jawab bersama. Pesantren dapat menjadi ruang pembelajaran yang mengembangkan solidaritas sosial sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan.
Namun, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Keteladanan pendidik, konsistensi aturan, perlindungan terhadap peserta didik, dan budaya belajar yang sehat menjadi unsur yang menentukan keberhasilan pendidikan.
Nunur juga dapat menekankan pentingnya pemerataan kualitas pendidikan bagi santri dari keluarga dengan kondisi ekonomi berbeda.
“Kesempatan memperoleh pendidikan bermutu tidak boleh ditentukan semata-mata oleh kemampuan ekonomi keluarga. Negara, pemerintah daerah sesuai kewenangannya, dan masyarakat perlu membangun kerja sama agar santri yang memiliki potensi memperoleh kesempatan berkembang. Beasiswa, fasilitas belajar, kompetensi guru, dan perlindungan peserta didik harus menjadi bagian dari perhatian bersama,” tambahnya.
Dalam konteks Kabupaten Bogor, pemerataan pendidikan perlu mempertimbangkan perbedaan kondisi wilayah dan akses terhadap fasilitas belajar. Kebijakan yang efektif harus berangkat dari pemetaan kebutuhan, bukan hanya dari asumsi bahwa seluruh lembaga menghadapi persoalan yang sama.
Lembaga legislatif memiliki fungsi untuk membahas kebijakan, menjalankan pengawasan, serta berperan dalam penganggaran sesuai ketentuan. Melalui fungsi tersebut, kebutuhan pendidikan dapat diperjuangkan dengan tetap memperhatikan transparansi, efektivitas program, dan pertanggungjawaban penggunaan dana publik.
Gagasan pendidikan karakter juga memiliki relevansi dengan tantangan generasi muda di era media sosial. Kemudahan menyebarkan informasi dapat memperluas pengetahuan, tetapi juga berisiko mempercepat penyebaran fitnah, perundungan, dan informasi yang tidak terverifikasi.
Karena itu, santri perlu memiliki literasi digital yang baik. Mereka harus mampu membedakan fakta dan opini, menilai kredibilitas sumber, serta memahami bahwa kebebasan berekspresi tetap disertai tanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan.
Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Agenda ini mengajak masyarakat memandang pesantren sebagai bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia yang berpengetahuan, berkarakter, dan produktif.
Menuju 2045, Indonesia memerlukan generasi yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki empati dan integritas. Pendidikan santri akan semakin bermakna apabila ilmu yang diperoleh mampu memperbaiki kehidupan pribadi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Berita Lainnya
Tags: Nunur Nurhasdian























