Siber24jam.com, JAKARTA – Kejaksaan Agung resmi menerbitkan tiga Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) setelah menerima pelimpahan...
Wai Sikhing Rusak, Masihkah Ada Rasa Peduli?
Tajuk Redaksi
Rabu, 15 Juli 2026
Wai Sikhing, aliran sungai kecil sepanjang kurang lebih dua kilometer di Pekon Doh, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, kini menjadi cermin memudarnya kepedulian terhadap lingkungan. Kondisi yang memprihatinkan ini tidak seharusnya dianggap sebagai pemandangan biasa, apalagi dibiarkan berlangsung tanpa upaya perbaikan.
Redaksi mempertanyakan, apa yang dirasakan ketika menyaksikan keadaan tersebut? Jika Anda seorang tokoh masyarakat, kepala pekon, camat,DPRD, Aparatan penegak hukum (APH) hingga Bupati, apakah hati Anda tidak terusik? Apakah kerusakan lingkungan telah menjadi hal yang lumrah sehingga tidak lagi memunculkan rasa tanggung jawab?
Pembiaran terhadap kerusakan lingkungan adalah bentuk kelalaian. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan, penyangga ekosistem, dan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Ketika kepedulian hilang, kerusakan akan terus meluas dan dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat sendiri.
Redaksi berpandangan bahwa menjaga Wai Sikhing bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Namun pemerintah daerah, pemerintah pekon, dan para pemangku kepentingan memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk memimpin upaya pelestarian lingkungan serta memastikan tidak ada pembiaran terhadap kerusakan yang terjadi.
Sudah saatnya tindakan nyata dilakukan. Jangan menunggu kerusakan semakin parah baru muncul penyesalan. Pertanyaan akhirnya sederhana namun mendasar: sampai kapan Wai Sikhing akan terus menjadi korban ketidakpedulian?
Berita Lainnya
Tags: Wai Sikhing



















