Update

Taman Puring Bukan Sekadar Pasar, Tapi Nafas Rakyat Kecil

TAJUK REDAKSI

Siber24jam.com & liputan08.com

Kamis, 21 Mei 2026

Oleh: Zakar

TAMAN PURING BUKAN SEKADAR PASAR, TAPI NAFAS RAKYAT KECIL

Sudah puluhan tahun Pasar Taman Puring di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, hidup dan tumbuh bersama rakyat kecil. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang perjuangan ribuan keluarga dari berbagai daerah di Indonesia menggantungkan hidupnya. Dari pedagang kecil, tukang servis sepatu, penjual pakaian, pedagang barang bekas, aksesoris, elektronik, hingga usaha rumahan, semua hidup dari denyut ekonomi Taman Puring.

Nama Taman Puring bahkan jauh lebih dikenal dibanding banyak pasar lain di Jakarta. Bagi masyarakat Indonesia, menyebut “Taman Puring” bukan hanya menunjuk sebuah lokasi, tetapi langsung mengingatkan orang pada pusat perdagangan rakyat yang legendaris, murah, ramai, dan penuh kehidupan. Dari era 1980-an hingga sekarang, nama Taman Puring melekat kuat di ingatan masyarakat sebagai simbol perdagangan rakyat kecil di Jakarta Selatan.

Kawasan ini dikenal luas sejak masa perkembangan Kebayoran Baru sebagai pusat permukiman dan perdagangan modern di Jakarta. Seiring waktu, Taman Puring tumbuh menjadi denyut ekonomi rakyat bawah. Pedagang datang dari berbagai daerah di Indonesia membawa harapan hidup. Banyak yang memulai usaha dari lapak kecil, lalu mampu menyekolahkan anak, membangun rumah, hingga menghidupi keluarga selama puluhan tahun dari pasar tersebut.

Taman Puring juga memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan sepatu dan barang kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau. Bahkan di masanya, pasar ini menjadi tujuan warga dari luar Jakarta karena terkenal murah dan lengkap. Tidak sedikit masyarakat yang rela datang dari Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga luar Pulau Jawa hanya untuk berbelanja di Taman Puring.

Pasar ini hidup bukan karena kemewahan gedungnya, tetapi karena kepercayaan rakyat. Karena kedekatan antara pedagang dan pembeli. Karena denyut kehidupan yang tidak pernah mati siang maupun malam.

Kebakaran besar Juli 2025 lalu memang meluluhlantakkan sebagian kawasan pasar. Namun yang lebih menyakitkan, hingga kini pembangunan tak kunjung jelas. Janji demi janji pernah disampaikan. Harapan pernah diberikan. Tetapi yang muncul justru wacana mengganti pasar menjadi taman. Pertanyaannya sederhana: di mana keberpihakan kepada rakyat kecil?

Sejak era gubernur-gubernur terdahulu, Taman Puring tidak pernah disentuh untuk ditutup total apalagi dihilangkan. Semua memahami satu hal: pasar ini adalah urat nadi ekonomi rakyat. Ribuan manusia hidup dari sana. Bukan hanya warga Jakarta, tetapi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia yang datang mencari nafkah dan kebutuhan hidup dengan harga terjangkau.

Kini masyarakat justru melihat ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pernyataan berubah-ubah menimbulkan keresahan. Hari ini bicara pembangunan, esok muncul wacana taman. Publik berhak bertanya: apakah pemimpin yang tidak konsisten masih bisa dipercaya rakyatnya?

Taman kota memang penting. Ruang hijau memang dibutuhkan. Tetapi pemerintah jangan menutup mata bahwa ada ribuan keluarga yang hidup dari pasar tersebut. Jangan sampai alasan penataan kota justru menjadi jalan menghapus kehidupan rakyat kecil.

Tim redaksi saat mengunjungi lokasi melihat langsung wajah-wajah penuh kecemasan. Di sudut-sudut pasar, para pedagang menahan air mata memikirkan nasib anak dan keluarga mereka. Ada yang sudah puluhan tahun berdagang di sana. Ada yang menggantungkan biaya sekolah anak dari hasil berjualan harian. Ada pula pedagang yang kini terlilit utang setelah kebakaran namun tetap bertahan berharap pasar kembali dibangun.

Mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya meminta kepastian untuk tetap hidup dan bekerja.

Pemerintah harus sadar, menggusur harapan rakyat kecil demi pencitraan ruang kota bukanlah solusi. Kota besar tidak dibangun hanya dengan taman indah, tetapi juga dengan keadilan sosial dan keberpihakan kepada wong cilik.

Taman Puring memiliki sejarah panjang dalam denyut ekonomi Jakarta. Pasar ini dikenal luas sejak puluhan tahun lalu sebagai pusat perdagangan rakyat dengan harga terjangkau yang dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara. Menghapusnya sama saja menghapus sejarah dan mematikan sumber kehidupan ribuan keluarga.

Lebih dari itu, Taman Puring sudah menjadi bagian dari identitas Jakarta Selatan. Banyak generasi tumbuh mengenal tempat ini. Banyak cerita hidup lahir dari lorong-lorong pasar tersebut. Dari tempat sederhana itu, ribuan orang belajar bertahan hidup di kerasnya ibu kota.

Jika pemerintah benar-benar berpihak kepada rakyat, maka yang dibangun adalah pasar yang lebih layak, aman, tertata, dan manusiawi — bukan menghilangkan sumber penghidupan masyarakat.

Rakyat tidak butuh janji.
Rakyat butuh kepastian.
Dan Taman Puring berhak hidup kembali.

Berita Lainnya

Tags: ,

Update News

Taman Puring Bukan Sekadar Pasar, Tapi Nafas Rakyat Kecil

TAJUK REDAKSI Siber24jam.com & liputan08.com Kamis, 21 Mei 2026 Oleh: Zakar TAMAN PURING BUKAN SEKADAR...

Antam Pongkor Apresiasi APFI 2026 di Cibinong, Foto Jurnalistik Dinilai Mampu Bicara Tanpa Kata

CIBINONG, Siber24jam.com — Gelaran Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2026 yang berlangsung di kawasan Taman...

Rudy Susmanto Ajak Warga Jaga Sungai, 220 Kilogram Ikan Sapu-Sapu Ditangkap di Situ Citatah

Cibinong, Siber24jam.com — Bupati Bogor, Rudy Susmanto bersama Wakil Bupati Bogor, unsur Forkopimda, Muspika, serta...

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara: Harkitnas Momentum Perkuat Persatuan dan Semangat Kebangsaan

CIBINONG, Siber24jam.com – Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara menegaskan bahwa Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)...