Cegah Bullying Sejak Dini, KKN Tim II UNDIP Ajak Siswa SDN 1 Purworejo Bangun Sekolah Aman dan Nyaman

WONOGIRI Siber24jam.com, 8 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 menggelar kampanye anti-bullying di SDN 1 Purworejo, Desa Purworejo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam meningkatkan kesadaran siswa sejak dini mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perilaku perundungan.

Kegiatan yang berlangsung di aula SDN 1 Purworejo tersebut diikuti para siswa dalam suasana edukatif, interaktif, dan penuh antusiasme. Sebanyak sepuluh mahasiswa KKN Tim II UNDIP terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan dengan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Farid Agushybana, S.KM., DEA., Ph.D., Fariz Nurmita Aziz, S.T.P., M.Sc., dan Dewi Setyaningsih, S.IP., M.A.

Kampanye anti-bullying dirancang tidak hanya sebagai kegiatan penyampaian materi, tetapi juga sebagai sarana bagi siswa untuk memahami, mengenali, dan berani menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai bullying atau perundungan. Para mahasiswa menjelaskan materi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar, mulai dari pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, hingga dampak yang dapat ditimbulkan terhadap korban.

Siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk perundungan yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar. Perundungan tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat berbentuk ucapan yang menyakitkan, ejekan, penghinaan, pengucilan, intimidasi, maupun tindakan lain yang membuat seseorang merasa takut, tertekan, tidak nyaman, atau kehilangan rasa percaya diri.

Dalam penyampaian materi, mahasiswa juga menekankan bahwa sesuatu yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang belum tentu dapat diterima sebagai candaan oleh orang lain. Perkataan atau tindakan yang dianggap sekadar bercanda dapat menimbulkan dampak serius apabila membuat orang lain merasa terluka, malu, takut, atau tertekan.

Karena itu, para siswa diajak untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dan memperlakukan teman. Sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, membantu teman, serta berani mengatakan tidak terhadap tindakan perundungan menjadi pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Salah satu bagian yang menarik dalam kampanye tersebut adalah sesi curhat anonim. Dalam sesi ini, para siswa diberikan kesempatan untuk menuliskan pengalaman, cerita, maupun kejadian yang pernah mereka alami atau saksikan berkaitan dengan bullying.

Cerita dituliskan pada sticky notes tanpa mencantumkan nama atau identitas siswa. Setelah dikumpulkan, cerita tersebut kemudian dibacakan satu per satu oleh pembawa acara (MC).

Sesi curhat anonim menjadi salah satu bentuk pendekatan yang dilakukan mahasiswa untuk menyediakan ruang aman bagi siswa. Dengan tidak mencantumkan identitas, siswa dapat menyampaikan pengalaman atau keresahan tanpa merasa khawatir diketahui oleh teman-temannya.

Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman dan dihargai. Apabila mengalami atau melihat tindakan perundungan, siswa didorong untuk tidak diam dan tidak menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendiri.

Mahasiswa juga mengingatkan pentingnya meminta bantuan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya ketika menghadapi persoalan bullying.

Setelah sesi materi dan curhat anonim, suasana kegiatan dibuat semakin interaktif melalui kegiatan ice breaking. Para siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas yang bertujuan membangun semangat, kebersamaan, serta komunikasi positif antarsiswa.

Ice breaking menjadi bagian penting untuk menjaga perhatian siswa setelah mengikuti sesi penyampaian materi. Melalui kegiatan yang lebih santai dan menyenangkan, pesan mengenai anti-bullying dapat diterima siswa tanpa menciptakan suasana yang terlalu formal.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kuis seputar bullying. Para siswa diberikan sejumlah pertanyaan mengenai materi yang sebelumnya telah disampaikan.

Kuis tersebut tidak hanya menjadi bentuk evaluasi sederhana terhadap pemahaman siswa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat pesan utama mengenai bahaya perundungan.

Melalui sesi tersebut, siswa diajak mengingat kembali bahwa tindakan mengejek, menghina, memukul, mengucilkan, mengintimidasi, atau melakukan tindakan lain yang menyakiti teman bukanlah perilaku yang dapat dibenarkan.

Antusiasme siswa terlihat dari keterlibatan mereka dalam menjawab pertanyaan dan mengikuti setiap rangkaian kegiatan yang telah disiapkan mahasiswa KKN.

Sebagai penutup, seluruh siswa SDN 1 Purworejo diajak mengucapkan ikrar anti-bullying secara bersama-sama.

Dengan penuh semangat, para siswa mengucapkan komitmen:

“Saya berjanji tidak akan melakukan bullying.”

Ikrar tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan saling menghargai.

Selain berkomitmen untuk tidak melakukan bullying, siswa juga diharapkan memiliki keberanian untuk membantu teman yang menjadi korban serta melaporkan tindakan perundungan kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.

Dengan demikian, kampanye anti-bullying tidak berhenti pada pemahaman mengenai definisi bullying, tetapi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui perilaku sederhana, seperti berbicara dengan sopan, menghargai teman, tidak mengejek kekurangan orang lain, membantu teman yang mengalami kesulitan, dan tidak ikut-ikutan melakukan perundungan.

Kepala SDN 1 Purworejo, Taufik, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN Tim II UNDIP tersebut.

Menurutnya, edukasi mengenai bullying penting diberikan kepada siswa sejak usia sekolah dasar agar mereka memahami dampak yang dapat ditimbulkan oleh tindakan perundungan.

“Terima kasih sudah mengajarkan anak-anak tentang besarnya dampak bullying. Semoga setelah ada materi dari mahasiswa KKN, tidak ada lagi kasus bullying di sini,” ujar Taufik,Jumat (21/8/206)

Apresiasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan edukasi mengenai anti-bullying memiliki peran penting dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang positif.

Sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, termasuk menghormati orang lain, membangun pertemanan yang sehat, bekerja sama, serta menyelesaikan perbedaan secara baik.

Bagi mahasiswa KKN Tim II UNDIP, kegiatan kampanye anti-bullying tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di tengah masyarakat.

Melalui interaksi langsung dengan siswa dan pihak sekolah, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai bagaimana menyampaikan edukasi kepada anak-anak dengan pendekatan yang komunikatif, interaktif, dan menyenangkan.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan sederhana, tetapi memiliki dampak positif, terutama ketika menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bullying merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Pencegahannya tidak dapat hanya dibebankan kepada korban, guru, maupun sekolah. Diperlukan keterlibatan siswa, orang tua, guru, dan seluruh lingkungan sekolah untuk membangun budaya yang menolak segala bentuk perundungan.

Karena itu, edukasi dan komunikasi sejak dini menjadi langkah penting agar anak-anak memahami batas antara bercanda dan tindakan yang dapat menyakiti orang lain.

Melalui kegiatan kampanye anti-bullying ini, mahasiswa KKN Tim II UNDIP berharap para siswa SDN 1 Purworejo tidak hanya memahami pengertian dan dampak bullying, tetapi juga mampu menerapkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.

Para siswa diharapkan berani berbicara apabila mengalami perundungan, tidak menjadi pelaku, tidak ikut mendukung tindakan bullying, serta berani membantu teman yang menjadi korban.

Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat meninggalkan pesan positif yang tetap diingat oleh siswa meskipun mahasiswa KKN telah menyelesaikan masa pengabdiannya di Desa Purworejo.

Pengalaman dari pelaksanaan kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa KKN pada periode berikutnya. Setiap program pengabdian tentu memiliki tantangan, proses, dan pengalaman yang berbeda. Namun, dari setiap pengalaman tersebut terdapat pelajaran yang dapat menjadi bekal untuk menyusun kegiatan yang lebih baik di masa mendatang.

Semoga mahasiswa KKN berikutnya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman yang telah dilalui oleh Tim II KKN UNDIP Tahun 2026, kemudian mengembangkan program-program yang semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kegiatan KKN bukan hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari seberapa besar nilai positif yang dapat ditinggalkan bagi masyarakat setelah mahasiswa kembali melanjutkan kehidupannya.

Penulis: Tim KKN-R II UNDIP 2026 Desa Purworejo

Berita Lainnya

Tags: ,

Update News

Cegah Bullying Sejak Dini, KKN Tim II UNDIP Ajak Siswa SDN 1 Purworejo Bangun Sekolah Aman dan Nyaman

WONOGIRI Siber24jam.com, 8 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro...

Bupati Rudy Susmanto Buka Harapan Baru 270 Siswa Sekolah Rakyat Jasinga

Siber24jam.com, JASINGA – Sekolah Rakyat Permanen Kabupaten Bogor di Kecamatan Jasinga resmi memulai kegiatan pendidikan...

Gerbang Kampus Terseret OTT: KPK Amankan Rektor Unsoed dan Sita Uang Ratusan Juta

Siber24.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di wilayah Purwokerto,...

Wabup Jaro Ade: Ummul Quro Beri Kontribusi Besar bagi Pendidikan dan Bangsa

Siber24jam.com, LEUWILIANG – Wakil Bupati Bogor, Jaro Ade, menyampaikan apresiasi Pemerintah Kabupaten Bogor terhadap kiprah...