Siber24jam.com, JAKARTA — Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana...
BOGOR Siber24jam.com – Dugaan aksi tawuran antarpelajar kembali terjadi di wilayah kapling DDN jl pajeleran Gunung, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (18/8/2026). Peristiwa tersebut melibatkan sejumlah pelajar yang diduga berasal dari SMK Negeri 1 Cibinong dan SMK Mekanik.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian bermula ketika sejumlah pelajar SMK Negeri 1 Cibinong sedang berkumpul. Kemudian, rombongan pelajar yang diduga berasal dari SMK Mekanik melintas dan disebut melakukan provokasi.
Situasi kemudian memanas. Sejumlah pelajar SMK Negeri 1 Cibinong diduga mengejar rombongan tersebut. Salah seorang pelajar yang panik bahkan meninggalkan kendaraannya dan berlari untuk menyelamatkan diri.
Tidak lama kemudian, rombongan pelajar lainnya kembali melintas dan diduga dicegat oleh sekelompok pelajar. Beruntung, seorang wartawan yang berada di lokasi disebut membantu menyelamatkan pelajar tersebut hingga kendaraan umum melintas dan situasi dapat sedikit mereda.
Namun, ketegangan belum sepenuhnya berakhir. Selang beberapa waktu, sejumlah pelajar yang diduga berasal dari SMK Mekanik kembali melintas menggunakan sekitar empat sepeda motor dan disebut kembali melakukan provokasi terhadap pelajar yang berada di lokasi.
Warga yang berada di sekitar lokasi pun mengaku khawatir kejadian tersebut berkembang menjadi tawuran yang lebih besar.
Parjo, salah seorang warga, menyayangkan masih adanya pelajar yang berkumpul dalam jumlah cukup banyak di luar lingkungan sekolah hingga berpotensi terlibat aksi saling provokasi.
“Kami sebagai warga sangat menyayangkan kejadian seperti ini. Anak-anak sekolah seharusnya pulang atau langsung kembali ke rumah setelah kegiatan belajar. Jangan sampai berkumpul di jalan dan akhirnya mudah terpancing provokasi,” ujar Parjo.
Menurutnya, pengawasan terhadap aktivitas pelajar tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan perhatian serius dari orang tua.
“Kami kasihan kalau sampai ada anak yang menjadi korban. Tawuran itu tidak ada untungnya. Bisa melukai orang lain, merusak kendaraan, bahkan masa depan anak sendiri bisa terganggu,” katanya.
Sementara itu, Ketua Bogor Media Siber Network (BMSN), Sofwan Ali, menyayangkan masih terjadinya aksi berkumpul dan saling provokasi antarpelajar.
Sofwan menilai sekolah dan orang tua harus meningkatkan komunikasi serta pengawasan terhadap aktivitas anak, khususnya setelah jam sekolah.
“Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Jangan sampai ketika anak sudah keluar dari sekolah, pihak sekolah tidak lagi mengetahui keberadaannya. Orang tua juga harus berkomunikasi dengan anak: setelah sekolah ke mana, dengan siapa, dan melakukan kegiatan apa,” tegas Sofwan.
Ia menilai sekolah tidak cukup hanya memberikan pendidikan di dalam kelas, tetapi juga perlu membangun komunikasi dengan orang tua apabila ditemukan siswa yang kerap berkumpul atau berpotensi terlibat aksi tawuran.
“Kalau anak sudah mulai kembali melakukan tawuran atau saling provokasi, jangan menunggu sampai ada korban. Sekolah, orang tua, pemerintah wilayah, dan kepolisian harus duduk bersama mencari solusi. Jangan saling melempar tanggung jawab,” ujarnya.
Sofwan juga meminta para pelajar tidak mudah terpancing oleh provokasi dari kelompok lain.
“Jangan karena saling ejek atau provokasi di jalan kemudian emosi dan melakukan pengejaran. Satu tindakan spontan bisa berakibat fatal. Pelajar harus ingat bahwa mereka punya masa depan yang jauh lebih penting daripada tawuran,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima, pihak kepolisian setelah mendapatkan laporan dari warga sedang menuju lokasi untuk mengantisipasi agar situasi tidak berkembang dan melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, situasi dan langkah penanganan lebih lanjut masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pihak sekolah.
Kejadian ini menjadi peringatan bagi sekolah, orang tua, dan seluruh masyarakat agar memperkuat pengawasan serta komunikasi terhadap aktivitas pelajar di luar lingkungan sekolah. Jangan sampai aksi saling provokasi yang awalnya hanya berupa ejekan berkembang menjadi tawuran yang menimbulkan korban.
Berita Lainnya
Tags: Tawuran Pelajar



















