RUMPIN, Siber24jam.com – Wakil Bupati Bogor, Jaro Ade, turun langsung meninjau lokasi jembatan ambruk di...
Jakarta, Siber24jam.com – 16 Maret 2025 Tradisi mudik Lebaran terus menjadi fenomena tahunan yang semakin meningkat setiap tahunnya. Pada 2024, jumlah pemudik mencapai 193,6 juta orang, dengan hampir 10 persen di antaranya memilih jalur laut. Tren ini diprediksi terus meningkat pada 2025, menghadirkan tantangan besar bagi sektor transportasi laut.
Menurut DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, S.SiT., M.H., M.Mar, lonjakan pemudik ini membawa berbagai permasalahan, salah satunya adalah keberadaan truk Over Dimension Over Loading (ODOL). Truk yang melebihi kapasitas ini tidak hanya merusak infrastruktur jalan, tetapi juga berisiko merusak kapal ferry yang mengangkutnya.
“Kapal ferry dirancang dengan kapasitas tertentu. Jika membawa truk ODOL, stabilitas kapal sulit dihitung, yang bisa berakibat fatal bagi keselamatan penumpang dan awak kapal,” ujar Capt. Hakeng.
Pemerintah telah melarang operasional truk ODOL sejak 2023, tetapi implementasi di lapangan masih lemah. Capt. Hakeng menegaskan perlunya pengawasan ketat dan menyoroti usulan pelarangan total truk di kapal ferry pada H-7 hingga H+7 Lebaran demi keamanan pemudik.
Selain truk ODOL, keselamatan penumpang di kapal juga menjadi sorotan. Menurut Capt. Hakeng, kesadaran penumpang terhadap prosedur keselamatan masih rendah. Oleh karena itu, pengelola kapal ferry harus memastikan setiap penumpang memahami penggunaan alat keselamatan sebelum keberangkatan. “Sosialisasi alat keselamatan wajib dilakukan sebelum kapal berangkat, baik melalui demonstrasi langsung maupun informasi digital,” tambahnya.
Tantangan lain dalam mudik 2025 adalah meningkatnya penggunaan mobil listrik. Walaupun ramah lingkungan, kendaraan ini menuntut kesiapan infrastruktur pengisian daya di pelabuhan. “Jika stasiun pengisian daya tidak memadai, mobil listrik bisa terjebak kehabisan daya, memperparah kemacetan,” jelas Capt. Hakeng. Ia juga menekankan perlunya awak kapal memahami cara menangani mobil listrik, terutama dalam situasi darurat seperti kebakaran.
Di sisi lain, kapasitas pelabuhan juga kerap menjadi masalah saat arus mudik. Lonjakan kendaraan menyebabkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi pemudik. Solusinya, menurut Capt. Hakeng, adalah peningkatan kapasitas pelabuhan serta digitalisasi sistem tiket dan manajemen kendaraan. “Sistem tiket digital dan pemantauan berbasis teknologi dapat mempercepat pendaftaran dan mengurangi kepadatan di pelabuhan,” katanya.
Keselamatan dan kenyamanan pemudik bergantung pada kesiapan semua pihak, termasuk pemerintah, pengelola transportasi, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang baik, arus mudik Lebaran 2025 diharapkan berjalan lebih aman, lancar, dan efisien.
Editor :
Ali Wardana











